belom ada judul

Loading...

jangan pernah mampersulit hidupmu

Loading...

hidup itu indah

Loading...

fahrudin gito

Loading...
Loading...

Minggu, 06 Februari 2011

perbedaan hasil belajar matematika siswa


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Keberhasilan siswa dalam belajar sepenuhnya dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diantaranya adalah metode yang digunakan guru dalam  proses mengajar. Pada kenyataannya di dalam proses pembelajaran masih menggunakan metode konvensional, sehingga siswa kurang aktif dalam pembelajaran dan hasilnya prestasi kurang memuaskan. Siswa dapat mencapai pencapaian hasil belajar yang maksimal apabila seorang guru dapat menerapkan metode mengajar yang tepat. Untuk itu, diperlukan suatu metode pembelajaran yang inovatif dan mampu meningkatkan keaktifan serta prestasi belajar siswa.
Kegiatan belajar yang terjadi seharusnya menjadi sebuah pembentukan mental, penanaman kognitif dan mengarahkan siswa kepada tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pembelajaran dimulai. Ketika kegiatan belajar mengajar terjadi tuntutan pada guru yaitu perumusan masalah yang telah dirancang oleh guru mudah diserap dan disukai oleh anak didik. Namun pada kenyataanya, guru belum mencapai tujuan yang telah dirumuskan secara maksimal.
Kejadian tersebut mengarah pada paradigma lama mengenai proses belajar mengajar bersumber pada teori asumsi “tabula rasa John Locke”, yakni anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih yang siap diberikan berbagai macam coretan-coretan dari gurunya. Asumsi ini memiliki pendapat di dalam belajar mengajar bahwa kegiatan belajar mengajar adalah proses pemindahan pengetahuan dari guru ke anak didik. Padahal pada permasalahan kelompok di kelas, guru lebih mementingkan materi yang diajarkan dari pada memperhatikan perbedaan individu dari setiap siswa dan tidak memperhatikan kenyamanan serta rasa menyenangkan siswa. Dari masalah tersebut seharusnya dapat diubah dan guru mau menggunakan metode pembelajran yang baik dan inivatif.
 Pembelajaran yang bersifat klasikal mengabaikan perbedaan individu, dapat diperbaiki dengan beberapa cara. Antara lain dengan menggunakan metode atau strategi mengajar yang bervariasi yang mengikuti kemajuan zaman sehingga perbedaan-perbedaan kemampuan anak didik dapat terlayani. Salah satunya adalah dengan menggunakan pembelajaran quantum learning.
Quantum learning adalah berbagai interaksi yang mampu mengubah energi menjadi radiasi atau cahaya (interactions that transform energy into radiance). Definisi ini mengisyaratkan bahwa di dalam diri setiap manusia itu banyak sekali potensi. Sebagai contoh adalah otak. Otak sebagai salah satu organ vital dalam diri setiap manusia yang banyak menyimpan potensi.
Teknik mind mapping adalah teknik mencatat quantum learning dengan konsep merangkai yang ditemukan oleh Tony Buzan. Konsep ini didasarkan pada cara kerja otak kita dalam menyimpan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang tersusun rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang berbercabang-cabang yang dapat dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon.
Mind mapping pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan oleh Tony Buzan. Teknik ini dikenal juga dengan nama Radiant Thinking. Dari catatan standar (yang linear dari atas ke bawah baik satu kolom atau dua kolom) atau yang umum dilakukan oleh seorang pelajar adalah:
1.   Dibutuhkan waktu yang lebih lama.
2.   Kerugian yang lainnya adalah bertentangan dengan cara kerja otak.
3.   Dan waktu juga habis hanya untuk untuk mencatatat kata-kata yang tidak ada hubungannya dengan memori atau membaca kembali kata yang sama dan tidak diperlukan.
Sehingga banyak anak didik yang cenderung meminjam catatan teman atau memotokopi catatan. Hal ini akan membuat anak didik jadi kurang kreatif dan kurang melatih otaknya sendiri. Pada prinsipnya untuk membuat mind mapping siswa akan memadukan cara berfikir lurus dan memencar. Dan, belajar mind mapping yang paling baik adalah dengan mempraktikkan.
Untuk memperbaiki pembelajaran secara konvensional juga bisa dilakukan dengan cooperative learning yang sekarang sudah banyak digunakan. cooperative learning adalah metode belajar dengan bekerjasama. Pada metode ini siswa dipecah menjadi beberapa kelompok untuk belajar bersama, bekerja bersama serta bertanggung jawab dari hasil kerja yang mereka lakukan secara bersama. Metode ini mementingkan kerja kelompok daripada individu. Metode ini dapat dikatakan sebagai kerja kelompok, tetapi tidak semua kerja kelompok dapat dikatakann sebagai cooperative learning.
Cooperative learning didasarkan kepada konstruktivisme, bahwa pengetahuan merupakan hasil penemuan sosial dan sekaligus merupakan faktor dalam perubahan sosial. Tiga konsep utama yang menjadi karakteristik Cooperative learning, yaitu:
1.   Penghargaan Group (Team Reward) adalah jika tim mencapai kriteria akan mendapat penghargaan.
2.   Akuntabilitas individu (individual accountability) adalah kesuksesan tim tergantung kepada seluruh individu dalam tim. Setiap anggota tim saling membantu dalam belajar sehingga betul-betul siap mengikuti kuis atau tes.
3.   Kesempatan yang sama untuk meraih sukes (Equal opportunities for success).
Cooperative learning memiliki beberapa teknik yang berbeda yaitu: Mencari Pasangan (make a match), Berpikir Berpasangan Berempat(Think-Pair-Square), Berkirim Salam dan Soal, Kepala Bernomor(Numbered Heads), Dua Tinggal Dua Tamu(Two Stay Two Stray), Keliling Kelompok, Kancing Gemerincing, Keliling Kelas, Lingkaran Kecil Lingkaran Besar(Inside Outside Circle), Tari Bambu, Jigsaw, Bercerita Berpasangan (Paired Storytelling), TAI (Teams Accelerated Intruction), CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)
Beberapa macam teknik tersebut, teknik jigsaw dapat menimbulkan rasa sosial dan solidaritas terhadap siswa. Karena pada teknik ini, pembagian kelompok dari beberapa kelompok diambil beberapa murid yang memiliki keahlian yang berbeda dan mengambil siswa yang ditentukan sebagai ahli pada setiap kelompok. Dimana siswa yang memiliki keunggulan ini memiliki tugas memberikan kemampuannya kepada anggota kelompoknya yang dapat mempersatukan pemikiran yang berbeda dan dapat menghilangkan rasa individualis dari setiap anggota kelompok.
Rendahnya tingkat keberhasilan siswa pada pembelajaran matematika menjadi keseriusan yang harus ditangani oleh semua pihak. Penyebab dari masalah ini karena kurangnya pengetahuan guru pada penggunaan metode yang tepat, efektif serta efisien, sehingga guru salah menggunakan metode pembelajaran yang berakibat timbulnya rasa jenuh, bosan, takut yang menurunkan motivasi belajar siswa.
Peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan menggunakan Quantum Learning teknik Mind Mapping dan Cooperative Learning teknik Jigsaw dengan judul Perbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa yang Diajarkan dengan Menggunakan Quantum Learning teknik Mind Mapping dan Cooverative Learning Teknik Jigsaw di SMP Negeri 18 Tangerang”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka muncul beberapa pertanyaan mengenai metode pembelajaran quantum learning teknik mind maping dan cooperative learning teknik jigsaw sebagai berikut:
1.   Apa yang menyebabkan hasil belajar matematika siswa SMP Negeri 18 Tangerang rendah ?
2.   Apakah terdapat perbedaan hasil belajar matematika siwa yang diajarkan dengan menggunakan metode  pembelajaran quantum learning teknik mind mapping dan pendekatan cooperative learning teknik Jigsaw?
3.    Bagaimanakah perbedaan hasil belajar matematika siswa yang menggunakan metode quantum learning dari cooperative learning teknik Jigsaw?
4.   Apakah penerapan quantum learning lebih efektif dalam pembelajaran matematika dari pada dengan cooperative learning teknik Jigsaw?
5.   Bagaimanakah hasil belajar matematika siswa yang menggunakan cooperative learning teknik jigsaw dan metode pembelajaran quantum learning teknik mind mapping?
6.   Apakah penerapan cooperative learning teknik jigsaw lebih efektif dalam pembelajaran matematika dengan metode quantum learning teknik mind mapping?
C. Pembatasan Masalah
Masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.   Quantum Learning teknik mind mapping merupakan pembelajaran tingkat cepat dimana siswa mengisi kertas putih kosong ukuran polio pada awal pembelajaran dan memulai menuangkan fikirannya di kertas yang dimulai dari tengah-tengah kertas kemudian membuat simbol yang sesuai dengan fikirannya mengenai materi yang dijelaskan. Setelah itu guru memerintahkan salah-satu siswa untuk menjelaskan tentang apa yang mereka ketahui dan sejauh mana mereka tahu. Setalah siswa menjelaskan materi yang mereka ketahui, guru dapat memberikan pertanyaan berbentuk soal kepada seluruh siswa dan menambahkan materi yang belum tertuang di mind mapping siswa.
2.   Cooperative learning teknik jigsaw merupakan pembelajaran kelompok dimana siswa dibagi dalam kelompok kecil untuk saling bekerja sama dalam memahami materi matematika. Dalam penelitian ini guru membagi siswa dalam kelompok kecil yang terdiri 4-5 orang yang heterogen. Kemudian dari 4-5 orang tersebut dibagi-bagi untuk mempelajari sub bab dari bab yang dipelajari. Tiap orang yang mempelajari sub bab yang sama berkumpul untuk mendiskusikan materi sampai menjadi kelompok ahli. Setelah itu, masing-masing kembali ke kelompok asal untuk saling mengajari teman-temannya dalam satu kelompok secara bergantian. Terakhir, guru memberikan latihan soal dan di kerjakan oleh seluruh siswa
3.   Hasil belajar matematika yaitu hasil setelah proses belajar matematika yang menghasilkan kemampuan intelegensi, keahliah, dan aplikasi secara evaluasi terhadap pembelajaran matematika pada pokok pembahasan persamaan linear dua variabel yang meliputi pada pengenalan metode grafik, substitusi, eliminasi dan metode eliminasi substitusi pada penentuan akar-akar persamaan dan penggunaan dalam kehidupan sehari-hari.

D. Perumusan Masalah
Perumusan utama dari penelitian ini dapat dirumuskan dalam pertanyaan: “apakah terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa yang diajarkan dengan Quantum learning teknik mind mapping dengan hasil belajar siswa yang diajarkan  dengan menggunakan cooperative learning teknik jigsaw pada pelajaran matematika pokok bahasan persamaan linear dua variabel?”.
E. Tujuan penelitian
Tujuan diadakannya penelitian ini yaitu untuk memilih metode yang sesuai dan dapat memperbaiki metode pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kemampuan dan hasil belajar matematika siswa.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk :
1.   Siswa dapat menambah pengetahuan tentang metode yang lebih efektif dan efesien digunakan dalam pembelajaran matematika.
2.   Guru dapat menentukan metode yang sesuai bagi kelancaran kegiatan pembelajaran disekolah.
3.   Kepala sekolah dapat menambah informasi tentang perlunya penggunaan metode yang tepat dalam pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa efesien baginya.







BAB II
KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Kajian Teori
1. Pembelajaran Matematika
Kehidupan manusia di dunia tidak terlepas dari proses belajar. Sejak lahir manusia sudah melakukan proses belajar untuk memenuhi kebutuhan dan perkembangan dirinya.
 Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
اطلب العلم من المهد الي اللحد
Artinya: Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat.
  Dengan belajar manusia dapat terus menerus meningkatkan kemandiriannya sebagai pribadi dan sebagai anggota masyarakat , meningkatkan self fulfillment (rasa kepenuhmaknaan) dan terarah kepada aktualisasi diri”[1]. Di dalam hubungannya pada lingkungan, mereka dapat menyesuaikan diri dengan cara yang adaptif dan kreatif terhadap tantangan zaman. Hingga saat ini dapat dikatakan belum ada tetapi tidak membatasi kita untuk mengetahui dan memahami apa itu belajar.
1.   Belajar menurut pandangan skinner
Belajar adalah perilaku pada waktu insan belajar maka perosesnya akan menjadi lebih baik. Sebaliknya jika insan tidak belajar maka kepekaannya pun akan menurun.
2.   Belajar menurut Gagne
Belajar adalah proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru.
3.   Belajar menurut pandangan Piaget.
Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu sebab individu melakukan proses interaksi secara terusme nerus dengan lingkungan, dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang. “Jadi belajar adalah pengembangan yang dibentuk oleh individu untuk pembentukan individu itu sendiri.”[2].
Beberapa definisi belajar diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang diakibatkan oleh adanya sebuah pengalaman, dalam proses belajar diperlukan dua pelaku utama yaitu anak didik sebagai subjek pembelajaran dan guru sebagai fasilitator proses pembelajaran. Belajar yang disertai proses pembelajaran menjadi lebih terarah dan terbimbing sehingga memudahkan anak didik untuk menangkap setiap pengalaman yang disampaikan oleh guru. Sehingga dapat disimpulkah bahwa pembelajaran matematika adalah proses perubahan tingkah laku dan pengetahuan tentang matematika.
Banyak mata pelajaran yang akan dikuasai oleh peserta didik di sekolah diantaranya matematika. Namun, pada kenyataannya peserta didik beranggapan bahwa matematika menjadi beban dan memerlukan ingatan juga penalaran yang kuat yang berbeda dengan pandangan metdode Quantum Learning “Belajar adalah tempat yang mengalir, dinamis, penuh risiko, dan menggairahkan[3]
Rendahnya hasil belajar matematika dipengaruhi oleh banyak faktor. Diantaranya karena metode yang diterapkan oleh guru dalam menyampaikan materi matematika kurang tepat. Guru masih menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi sehingga guru di dalam memberikan informasi, hanya terfokus pada materinya saja sementara peserta didik hanya mendengarkan dan keaktifan hanya didominasi oleh guru sehingga membuat anak didik menjadi bosan dan tidak semangat dalam mengikuti pelajaran matematika.
Pengalaman belajar hendaknya juga memuat kecakapan hidup (life skill) yang harus dimiliki oleh anak didik. Kecakapan hidup merupakan kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi masalah hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara aktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga mampu mengatasinya.
2. Quantum Learning
Quantum learning pertama kali dikembangkan oleh De Porter. Pada tahun 1992, dengan mengilhami rumus yang terkenal dalam fisika kuantum yaitu masa kali kecepatan cahaya kuadrat sama dengan energi. Rumus tersebut mendefinisikan bahwa Quantum sebagai interaksi yang dapat mengubah energi menjadi cahaya, pembelajaran Quantum bermakna interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya karena semua energi adalah kehidupan dan dalam proses pembelajarannya mengandung keberagaman dan interdeterminisme. Dengan kata lain interaksi-interaksi yang dimaksud mengubah kemampuan dan bakat alamiah anak didik menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain.
 Pemaknaan Quantum learning dapat dimaknai dengan kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. DePorter mengembangkan teknik yang bertujuan untuk membantu para peserta didik menjadi responsif dan bergairah dalam menghadapi tantangan dan perubahan realitas yang terkait dengan kemajuan zaman. “ Quantum learning berasal dari upaya Georgi Lozanov, pakar kependidik berkebangsaan Bulgaria. Ia melakukan eksperimen yang disebutnya suggestology (suggestopedia)[4].  Georgi berprinsip bahwa sugesti dapat mempengaruhi hasil belajar dan setiap detik keadaan akan memberikan sugesti positif atau negatif. Untuk mendapatkan sugesti positif beberapa teknik digunakan diantaranya: Para anak didik di dalam kelas dibuat menjadi nyaman. Mengarahkan murid dengan cara membuat ringkasdan materi dengan taburan seni dan kratifitasan.
Teori yang tersirat di dalam Quantum learning adalah “Accelerated Learning, Multiple Intelligences, Neuro-Linguistic Programming (NLP)[5] yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur dan mengolah sebuah informasi. Quantum learning mberkiblat pada kekuatan emosional seseorang yang berlandasan pada pemaduan multi sensorik, multi kecerdasan, dan kompatibel dengan otak.
Selanjutnya DePorter mendefinisikan quantum learning sebagai “interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.” Mereka berasumsi pada kekuatan energi sebagai bagian penting dari setiap interaksi manusia, dengan mengutip rumus klasik yaitu , mereka mengalihkan masalah energi ke dalam tubuh manusia yang  secara fisika adalah materi. Sebagai anak didik bertujuan meraih sebanyak mungkin cahaya: interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya.
Teknik-teknik kunci dari teori dan strategi belajar, seperti: teori otak kanan/kiri, teori otak triune (3 in 1), pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestik), teori kecerdasan ganda, pendidikan holistik, belajar berdasarkan pengalaman, belajar dengan simbol (metaphoric learning), simulasi/permainan teknik baca cepat quantum, menghafal quantum dan (mind mapping).
Beberapa hal yang penting dicatat dalam quantum learning adalah sebagai berikut:
1.   Para anak didik dikenali tentang “kekuatan pikiran” yang tak terbatas.
2.   Para anak didik ditegaskan bahwa otak manusia mempunyai potensi yang sama dengan yang dimilliki oleh Albert Einstein.
3.   Para anak didik dipaparkan tentang bukti fisik dan ilmiah yang memerikan bagaimana proses otak itu bekerja.
Berdasarkan penjelasan mengenai apa dan bagaimana unsur-unsur dan struktur otak manusia bekerja, dibuat model pembelajaran yang dapat mendorong peningkatan kecerdasan linguistik, matematika, visual/spasial, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal, intarpersonal, dan intuisi. Bagaimana mengembangkan fungsi motor sensorik melalui kontak langsung dengan lingkungan, sistem emosional-kognitif melalui bermain, meniru, dan pembacaan cerita, dan kecerdasan yang lebih tinggi melalui perawatan yang benar dan pengondisian emosional yang sehat. Bagaimana memanfaatkan cara berpikir dua belahan otak “kiri dan kanan”. Sehingga metode quantum learning menggunakan konsep mind mapping dalam proses pembelajaran adalah suatu pemikiran yang bernilai positif dalam pengaktifan dan pembangunan kerja otak.
Bawalah dunia mereka kedunia kita,dan antarkan dunia kita kedunia mereka[6]. Seorang guru harus mengubah kelas yang statis dan membosankan menjadi sebuah komuntitas belajar yaitu dari cara mengatur bangku, menentukan kebijakan kelas, hingga cara guru merancang pengajaran. Kelas yang awalnya seperti kelas pada biasanya diubah menjadi “rumah” tempat anak didiktidak hanya terhadap umpan balik, tetapi juga mencarinya; tempat mereka mengakui dan mendukung orang lain; tempat mereka mengalami kegembiraan dan kepuasan, memberi dan menerima, belajar dan tumbuh.
Kontek menata panggung belajar mempunyai empat aspek: suasana, landasan, lingkungan, dan rancangan”[7]. Suasana kelas yang gembira membawa kegembiraan pula dalam belajar. Adapun cara yang ampuh dalam pembentukan suasana yang menggembirakan dapat dilakukan oleh guru dengan menancapkan kekuatan niat seorang guru pada kemampuan dan motivasi anak didiknya bahwa guru bisa menimbulkan itu dan murid pasti mampu salah satunya dengan membuat rangkuman dari hasil belajar mereka dengan memetakan konsep yang mereka temui yakni dengan menggunakan mind mapping.
3. Teknik Mind Mapping
“Mind mapping merupakan cara untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambilnya kembali ke luar otak” [8]. Bentuk mind mapping seperti peta sebuah jalan di kota yang mempunyai banyak cabang. Seperti halnya peta jalan kita bisa membuat pandangan secara menyeluruh tentang pokok masalah dalam suatu area yang sangat luas. Dengan sebuah peta kita bisa merencanakan sebuah rute yang tercepat dan tepat dan mengetahui kemana kita akan pergi dan di mana kita berada.
Mind mapping bisa disebut sebuah peta rute yang menggunakan ingatan, membuat kita bisa menyusun fakta dan fikiran sehingga cara kerja otak kita yang alami akan dilibatkan sejak awal hingga dalam mengingat informasi akan lebih mudah dan bisa diandalkan dari pada menggunakan teknik mencatat biasa.
Konsep Mind Mapping asal mulanya diperkenalkan oleh Tony Buzan tahun 1970-an. Teknik ini dikenal juga dengan nama Radiant Thinking. Mind maping memiliki sebuah ide atau kata sentral yang di tuangkakan pada tengah kertas dan ada 5 sampai 10 ide lain yang keluar dari ide sentral tersebut.
 Mindmaps are useful for severalpurposes. They assist in organizing and remembering written or verbalinformations, planning and evaluating projects or events, or making visual record of meeting in progress”[9].

Mind Mapping sangat efektif bila digunakan untuk memunculkan ide terpendam yang kita miliki dan membuat asosiasi di antara ide tersebut juga berguna untuk mengorganisasikan informasi yang dimiliki. Bentuk diagramnya yang seperti diagram pohon dan percabangannya memudahkan untuk mereferensikan satu informasi kepada informasi yang lain. Mind mapping merupakan tehnik penyusunan catatan demi membantu anak didik menggunakan seluruh potensi otak agar optimum. Caranya, menggabungkan kerja otak bagian kiri dan kanan. Dengan metode mind mapping anak didik dapat meningkatkan daya ingat hingga 78%. Beberapa manfaat memiliki mind map antara lain:
1.   Menjadi lebih kreatif
2.   Memusatkan perhatian
3.   Menyusun dan menjelaskan fikiran-fikiran
4.   Mengingat dengan lebih baik
5.   Belajar lebih cepat dan efisien
“Dengan mind mapping anak bisa membingkai suatu konsep matematika (aljabar, geometri, aritmatika dan sebagainya), rumus-rumus yang sedang dipelajari di sekolah”[10] Mind mapping membantu peserta didik belajar membentuk konsep dan mencari pola serta hubungan abstrak dari pelajaran matematika. Dengan begitu, strategi logis, kepekaan makna angka, rancangan, dan bukan sekedar hafal.
Kreativitas muncul karena adanya motivasi yang kuat dari diri individu peserta didik secara efektif individu kreatif memiliki ciri rasa ingin tahu yang besar, tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai tantangan, berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan, mempunyai rasa humoris, dan ingin mencari pengalaman-pengalaman baru.
Peserta didik dalam proses belajar meginginkan materi pelajaran yang diterima menjadi memori jangka panjang sehingga ketika materi tersebut diperlukan kembali peserta didik dapat mengingatnya. Belahan otak kiri yang berkaitan dengan kata-kata, angka, logika, urutan, dan rincian yang dapat disebut aktivitas belajar. Belahan otak kanan berkaitan dengan warna, gambar, imajinasi, dan ruang atau disebut sebagai aktivitas kreatif. Jika kedua belahan ini dipadukan secara bersamaan maka informasi (memori) yang diterima dapat bertahan menjadi memori jangka panjang. “Mind mapping merupakan teknik mencatat yang memadukan kedua belahan otak[11]. Sebagai contoh, catatan materi pelajaran yang dimiliki peserta didik dapat dituangkan melalui gambar, simbol dan warna. Mind Mapping mewujudkan harapan siswa untuk memori jangka panjang. Materi pelajaran yang dibuat dalam bentuk peta pikiran akan mempermudah sistem limbic memproses informasi dan memasukkannya menjad memori jangka panjang.
4. Cooperative Learning
Dalam proses pembelajaran, interaksi sosial menjadi salah satu faktor yang penting bagi perkembangan skema atau pola mental yang baru bagi siswa. Di sinilah Cooperative Learning memainkan peranannya dalam memberi kebebasan sebebas-bebasnya kepada siswa untuk dapat berpikir secara kritis, kreatif, reflektif, analitis dan produktif. Karena pengajaran yang berkesan dapat menghasilkan pembelajaran yang diinginkan. Itulah yang perlu ditekankan kepada para guru dimana pembelajaran yang baik adalah apabila seluruh siswa ikut aktif melibatkan diri dalam proses pembelajaran.
Cooperative learning mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah. Bukanlah cooperative learning jika para siswa duduk bersama dalam kelompok-kelompok kecil sedangkan salah seorang diantaranya untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan kelompok. Cooperative learning menekankan pada kehadiran teman sebaya yang berinteraksi antar sesamanya sebagai sebuah tim dalam menyelesaikan atau membahas suatu masalah atau tugas. Tanggung jawab terhadap tugas setiap anggota kelompok mendukung penuh adanya akuntabilitas individu agar setiap siswa dapat memberikan kontribusinya kepada kelompok.
Proses pembelajaran kooperatif dimulai dengan membagi siswa kedalam beberapa kelompok kelompok kecil. Setiap siswa ditempatkan di dalam kelas sedemikian rupa sehingga antara anggota kelompok dapat belajar dan berdiskusi dengan baik tanpa mengganggu kelompok yang lain. Guru membagikan materi pelajaran, baik berupa lembar kerja, buku, atau tugas. Selanjutnya guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memberikan pengarahan tentang materi yang harus dipelajari dan permasalahan-permasalahan apa saja yang harus diselesaikan. Untuk menguasai materi pelajaran atau menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, setiap siswa dalam kelompok ikut bertanggung jawab secara bersama, yakni dengan cara berdiskusi, saling tukar pikiran atau ide serta gagasan, pengetahuan dan pengalaman demi tercapainya pembelajaran bersama.
Beberapa manfaat proses pembelajaran cooperative learning, menurut Anita Lie yaitu : siswa dapat meningkatkan kemampuannya untuk bekerjasama dengan siswa yang lain, mempunyai lebih banyak kesempatan untuk menghargai perbedaan, mengurangi kecemasan siswa, meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, motivasi, harga diri, sikap positif dan prestasi belajar siswa.[12]

Dapat disimpulkan bahwa cooperative learning adalah pembelajaran yang berifat gotong royong yang terbentuk dalam sebuah kelompok kecil yang terdisain secara hetorogen untuk menghilangkan perbedaan res yang menghasilkan suasana belajar yang harmonis dan damai dan penuh rasa tanggung jawab.
5. Teknik Jigsaw
The jigsaw is an effective technique that nurtures positive inter dependence among group members. It is appropriate for studying portions of textbooks[13] . Teknik jigsaw merupakan cooperative learning yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Dalam teknik jigsaw ini terdapat tahapan-tahapan dalam pelaksanaannya.tahap pertama siswa di kelompokan dalam bentuk kelompok-kelompok kecil. Pembentukan kelompok-kelompok siswa tersebut dapat dilakukan dengan pertimbangan tertentu yakni dapat di tinjau dari kemampuan, ras, dan karakteristik lain. Manfaat belajar kelompok, keanggotaan kelompok dapat optimal jika penentuannya secara heterogen.
Jumlah siswa yang bekerja sama dalam masing-masing harus dibatasi, agar kelompok kelompok yang terbentuk dapat bekerja sama secara efektif, karena suatu ukuran kelompok mempengaruhi ke mampuan produktivitasnya.
Teknik jigsaw menugaskan pada setiap anggota kelompok di tugaaskan untuk mempelajari materi tertentu yang telah ditentukan guru. Kemudian siswa atau perwakilan dan kelompoknya masing-masingbertemu dengan anggota-anggota dan kelompok lain yang mempelajari materi yang sama. Selanjutnya materi tersebut didiskusikan di pelajari dan difahami setiap masalah yang dijumpai perwakilan tersebut dapat memahami dan menguasai materi tersebut.
Teknik jigsaw dapat digunakan secara efektif di tiap level dimana siswa telah mendapatkan keterampilan akademis dan pemahaman, membaca maupun keterampilan kelompokuntuk belajar bersama. Jenis materi yang paling mudah digunakan, materi yang disajikan dapat mengembangkan konsep daripada mengembangkan keterampilan sebagai tujuan umum.
6. Hasil Belajar Matematika
Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, dan tidak baik menjadi baik. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Sedangkan menurut Gagne yang dikutip oleh Syaiful Sagala, belajar adalah sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman.[14] Pengalaman-pengalaman dalam belajar akan meghasilkan hasil belajar yang merupakan output atau keluaran sebagai hasil dari proses belajar.
 Hasil belajar adalah perubahan yang terjadi pada individu yang belajar, bukan saja perubahan mengenai pengetahuan tetapi juga pembentukan kecakapan, sikap, pengertian, penguasaan, dan penghargaan dalam diri individu yang belajar.[15]

Sedangkan menurut Nana Sujana yang merujuk pada taksonomi Bloom mengatakan bahwa: "Hasil belajar bukanlah suatu hasil latihan, melainkan hasil perubahan tingkah laku yang mencakup aspek kognitif, apektif, dan Psikomotor".[16]
Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan yang terjadi pada individu setelah mengalami suatu proses belajar yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Perubahan tersebut dapat berupa hasil dari perubahan tingkah laku yang diwujudkan melalui perolehan pengetahuan, pemahaman, kebiasaan, keterampilan dan sikap.
Hasil belajar dipengaruhi oleh faktor yang mempengaruhi proses belajar itu sendiri, yaitu faktor internal  yang meliputi kematangan atau pertumbuhan, kemampuan belajar yang merupakan gabungan dari kemampuan intelegensi, bakat, motivasi dan kehendak, sedangkan faktor eksternal meliputi keadaan keluarga dan lingkungan, keadaan dari materi belajar dan faktor-faktor yang berhubungan dengan cara belajar.



7. Hakikat Matematika   
Istilah matematika berasal dari kata Yunani ”mathein” atau “manthenein” yang artinya mempelajari[17]. Johnson dan Myklebust yang dikutip oleh Mulyono mengemukakan pendapatnya, bahwa “Matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan, sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir[18].
Matematika memiliki peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan. Banyak permasalahan dan kegiatan dalam hidup kita yang harus diselesaikan dengan menggunakan ilmu matematika seperti menghitung, mengukur, dan lain-lain. Matematika adalah ilmu yang universal yang mendasari dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern hingga saat ini.
Matematika tidak hanya membantu peserta didik dalam mempelajari ilmu lain, melainkan juga dalam rangka pembentukan sikap dan kepribadian agar dapat berpikir logis, rasional, kreatif dan sistematis. Di sini matematika berperan sebagai kerangka berpikir bagi setiap peserta didik yang mempelajarinya.
Bidang studi matematika yang dipelajari di sekolah mencakup tiga cabang yaitu aritmatika, aljabar, dan geometri. Aritmatika berkenaan dengan hubungan bilangan-bilangan nyata dengan berbagai operasi hitung. Sedangkan penggunaan abjad atau lambang tertentu untuk mrepresentasikan lambang bilangan merupakan wilayah aljabar. Sementara itu obyek pembahasan geometri berkenaan dengan titik, garis, bidang, maupun ruang. Ketiga cabang ini harus dikuasai oleh peserta didik untuk dapat memahami ilmu matematika.
Pada penelitian ini, yang dimaksud dengan matematika adalah ilmu yang mengutamakan penalaran yang logis dan berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, berpikir, serta menurunkan dan menggunakan rumus matematika. Dari semua cabang matematika, yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah cabang geometri yaitu lingkaran.
8. Lingkaran
a.       Definisi lingkaran
Lingkaran lingkaran adalah lengkung tertutup yang semua titik-titik  pada lengkung itu berjarak sama terhadap suatu titik tertentu dalam lengkungan itu. Titik tertentu di dalam lengkungan tersebut disebut pusat lingkaran dan jarak tersebut disebut jari-jari.[19]

  Selain definisi ini lingkaran juga dapat didefinidikan Lingkaran adalah kumpulan titik-titik (pada bidang datar) yang jaraknya dari suatu titi tertentu (titik pusat) sama panjang.
b.      Mencari nilai pi (π) dan menentukan keliling lingkaran
Nilai π dapat dapat ditentukan dengan melakukan percobaan dengan mengukur panjang lingkaran dan membaginya dengan diameter lingkaran roda tersebut maka nilai pi akan kita dapati. Proses tersebut dapat dipraktekkan dengan cara:
Bentuklah lingkaran dengan kawat atau tali yang sesuai dengan ketiga benda tersebut. Dan ukur diameternya Lalu luruskan kawat atau tali tersebut dan ukur panjangnya. Lakukan langkah tersebut terhadap banyaknya bendaDan kita akan mendapati bahwa:
Dimana nilai pi =22/7 =3,14
150px-Circle_AreaDan kita dapat mendapatkan rumusan bahwa keliling lingkaran adalah:
          atau    

c.       Luas Daerah Lingkaran
Luas daerah lingkaran adalah luas daerah yang dibatasi oleh lengkung lingkaran  
Luas daerah lingkaran memiliki rumus

Rumus tersebut didapati dengan pendekatan. Pendekatan ini dilakukan dengan membagi lingkaran kedalam sejumlah juring yang kongruen. Kemudian membentuk segi-n beraturan yang sesuai dengan juring yang terbentuk. Luas segi-n beraturan tersebut akan mendekati luas lingkaran.
Luas segi-n beraturan dalam lingkaran
 =.
Jika n besar sekali maka keliling segi-n akan mendekati keliling lingkaran dan nilai apotema akan mendekati nilai jari-jari lingkaran. Semakin besar nilai n, maka luas segi-n akan semakin mendekati luas lingkaran. Sehingga dapat kita tulis:
           Luas segi-n = ½ x apotema x keliling segi-n
   Jika-n→
                                    Maka   keliling segi-n → keliling lingkaran
Apotema → jari-jari
                                    Luas segi-n → mendekati luas lingkaran

Jadi, luas lingkaran = ½ x jari-jari x keliling lingkaran
                                    = 

Dengan demikian, kita telah membuktikan bahwa luas lingkaran sama dengan π x kuadrat jari-jari atau


 

Pembuktian luas lingkaran diatas, dapat pula ditempuh dengan membagi sebuah lingkaran ke dalam 18 juring yang identik, seperti cara berikut.
Bentuk potongan-potongan yang tersusun berupa persegi panjang dengan ukuran:




Panjang           = ½ x keliling lingkaran =1/2 x 2πr= πr
Lebar                = jari-jari lingkaran = r                                                                                                                                               x
Luas persegi panjang = luas lingkaran = πr x r = πr2

Karena d = 2r, maka luas lingkaran ditentukan oleh formula :

 atau


B. Kerangka Berpikir
Belajar adalah kewajiban yang dilakukan oleh peserta didik yang melibatkan peranan guru dalam pembimbingan dan kemauan peserta didik dengan perasaan gembira dan senang. Belajar meruakan rangkaian proses pematangan kognitif yang didapati peserta didik dari asumsi-asumsi yang didapatinya selama proses pembelajaran. Oleh karena itu proses belajar mengajar di dalam kelas mampu membentuk peserta didik mengetahui pengembangan diri mereka dengan potensi diri yang kreatif, mampu mengadakan analisa, membentuk ahlak yang baik, mampu memecahkan masalah dan mampu mengingat akan semua yang telah dilalui denag sistematis dan menarik yang merangsang kemampuan otak dan mengaplikasikanya di dalam kesehariannya.
Proses pembelajaran yang mengakibatkan kejenuhan belajar ada metode-metode yang dapat mengubah perspektif tersebut menjadi sebuah proses yang akahirnya menjadikan anak didik riang gembira dalam pembelajaran dan tidak mersakan sedang belajar melainkan mereka merasa sedang bermain dan bercanda ria dengan semua anggota kelas.
Quantum learning adalah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat, teknik mind mapping adalah alternative pemikiran keseluruhan otak terhadap pemikiran linear. Dari pembahasan tersebut maka dapat disimpulkan diduga terdapat pengaruh penggunaan quantum learning dengan teknik mind mapping terjadi peningkatan hasil belajar matematika siswa dengan mementingkan fungsi otak yang diaplikasikan dengan quantum teknik mind mapping.
C. Pengajuan Hipotesis
Dari deskripsi dan kerangka berpikir, maka hipotesis yang akan  diajukan yaitu :
Ho :    Tidak terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa yang menggunakan quantum learning teknik mind mapping dengan hasil belajar matematika siswa yang menggunakan cooperative learning teknik jigsaw pada pokok bahasan lingkaran.
H1 :     Terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa yang menggunakan quantum learning teknik mind mapping dengan hasil belajar matematika siswa yang menggunakan cooperative learning teknik jigsaw pada pokok bahasan lingkaran.



[1] Umar Tirta Raharja. Pengantar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta,1995), hlm.42
[2] Dimyati. Belajar dan Pembelajaran,(Jakarta: Rineka Cipta,2002 ), Hlm.14
[3] Bobbi de Porter, dkk. Quantum Learning (Kaifa:Jakarta ,1999). Hlm.29
[4] Bobbi de Porter, et.al. Ibid. hlm.7
[5] Bobbi de Porter, et.al. Loc cit.
[6] Bobbi de Porter. Quantum Teaching,(Kaifa:Jakarta,1999 ), hlm 6
[7] Bobbi de Porter. Ibid. Hlm 14
[8] Buzzan Tony.Buku Pintar Mind Map (Gramedia Pustaka Utama: Jakarta,2007), hlm. 2
[9] Linda Campbell et al, Teaching End Learning Through Multiple Intelegences,(USA: A. Simon & Schuster Company. 1996), Hlm 107
[10] Femi Olivia. Gembira belajar dengan mind maping. (Elek Media Komputindo. Jakarta,2003), hlm. 135
[11]Tony Buzzan. Op cit.  Hlm. 60
[12] Khoirul Anam, Implementasi Cooperative Learning ; Buletin Pelangi Pendidikan, hlm. 23
[13] Linda Cambell et al. op cit.hlm 166
[14] Syaiful Sagala. Konsep dan Makna Pembelajaran. (Jakarta : Alfabeta,2002), hlm. 13
[15] S. Nasution, Didaktika Azas-azas Mengajar, (Bandung: Semmars, 1982), hlm.25
[16] Nana Sujana, Penilaian Hasil Belajar Mengajar, (Bandung: Rosda Karya, 1990), hlm.3
[17] Andi Hakim Nasution, Landasan Matematika, (Jakarta: Karya Aksara, 1982), hlm.12.
[18] Mulyono Abdurahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belaja (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hlm.252.
[19] Wilson Simangunsong. Matematika untuk SMP kelas VII.(Erlangga.jakarta. 2007). Hlm. 226

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar