belom ada judul

Loading...

jangan pernah mampersulit hidupmu

Loading...

hidup itu indah

Loading...

fahrudin gito

Loading...
Loading...

Senin, 28 September 2009

ETOS KERJA MASYARAKAT INDONESIA

BAB I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Ketertinggalan Indonesia saat ini membuat kita bertanya, apakah orang Indonesia tidak punya semangat kerja seperti bangsa lain?. Jika punya, mengapa negara kita " bernasib " seperti sekarang ini ? Studi-studi sosiologi dan manajemen dalam beberapa dekade belakangan bermuara pada satu kesimpulan yang mengaitkan antara etos kerja manusia dengan keberhasilannya.
Dikatakan bahwa keberhasilan di berbagai wilayah kehidupan ditentukan oleh sikap, perilaku dan nilai-nilai yang diadopsi individu-individu manusia di dalam komunitas atau konteks sosialnya. Pertanyaannya kemudian adalah seperti apa etos kerja masyarakat Indonesia? Apakah etos kerja kita menjadi penyebab dari rapuh dan rendahnya kinerja sistem sosial, ekonomi, dan kultural bangsa Indonesia?
Ataukah etos kerja yang kita miliki sekarang ini merupakan bagian dari politik republik tercinta? Karateristik bangsa Indonesia digambarkan sebagai seorang yang munafik, tidak bertanggung jawab, feodal, percaya pada takhayul dan lemah wataknya. Sejumlah pemikir dan budayawan lain menyebutkan bahwa bangsa Indonesia memiliki 'budaya loyo', ' budaya instant ' dan banyak lagi.
Hasil pengamatan para cendikia tersebut tentu ada kebenarannya, tetapi tentunya bukan maksud mereka untuk membuat final judgement terhadap bangsa kita. Pernyataan-pernyataan mereka perlu disikapi sebagai suatu teguran dan peringatan yang serius. Jika ciri-ciri etos kerja sebagaimana diungkapkan dalam " Manusia Indonesia" tidak kita sosialisasikan, tumbuh kembangkan dan pelihara maka berarti kita bergerak mundur beberapa abad kebelakang.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
1. Bagaimana karateristik manusia Indonesia?
2. Seperti apakah etos kerja yang dimiliki masyarakat Indonesia ?
3. Apakah etos kerja mempangaruhi kemajuan suatu bangsa ?
C. PEMBATASAN MASALAH
Disini penulis akan membatasi masalah yang akan dibahas yaitu :
1. Bagaimana karateristik manusia Indonesia ?
2. Seperti apakah etos kerja yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia?
D. TUJUAN
Pembahasan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang bagaimana karateristik yang dimiliki oleh manusia Indonesia dan etos kerja mereka. Dengan mengetahui seperti apa etos kerja masyarakat Indonesia diharapkan manusia Indonesia akan dapat memperbaiki etos kerja mereka karena dikatakan bahwa keberhasilan di berbagai wilayah kehidupan ditentukan oleh sikap, perilaku dan nilai-nilai yang diadopsi individu-individu manusia di dalam komunitas atau konteks sosialnya.







BAB II. ISI
A. ETOS KERJA
I. Apa yang dimaksud dengan etos ?
Etos berasal dari bahasa Yunani ( ethos ) yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Dan di dalam kamus Webster, etos didefinisikan sebagai keyakinan yang berfungsi sebagai panduan tingkah laku seseorang, sekelompok, atau sebuah institusi ( guilding beliefs of a person group or institusion ) . Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan mesyarakat. Etos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh budaya, serta system nilai yang diyakininya. Dari kata etos ini, dikenal pula kata etika, etiket yang hampir mendekati pada akhlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik buruk ( moral ) sehingga dalam etos terkandung gairah atau semangat yang amat kuat untuk mengerjakan sesuatu secara optimal, lebih baik, dan bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin.
Dalam etos tersebut, ada semacam semangat untuk menyempurnakan segala sesuatu dan menghindari segala kerusakan ( fasad ) sehingga setiap pekerjaannya diarahkan untuk mengurangi bahkan menghilangkan sama sekali cacat dari hasil pekerjaannya. Karena etos berhubungan dengan nilai kejiwaan seseorang, hendaknya setiap pribadi harus mengisinya dengan kebiasaan-kebiasaan yang positif dan ada semacam kerinduan dalam dirinya untuk menunjukkan kepribadiannya dalam bentuk hasil kerja yang sempurna.
Etos juga mempunyai makna moral yaitu suatu pandangan batin yang bersifat mendarah daging. Dia merasakan bahwa hanya dengan menghasilkan pekerjaan yang terbaik, dia akan menjadi manusia yang sukses. Etos juga menunjukkan sikap dan harapan seseorang. Imam Al-Qushairi menyebutkan bahwa harapan adalah keterpautan hati kepada yang diinginkannya terjadi di masa yang akan datang. Perbedaan harapan dengan angan-angan adalah angan-angan membuta seseorang menjadi pemalas dan terbuai oleh khayalannya tanpa mau mewujudkannya.
Kita menyaksikan begitu banyak orang yang berhasil dan mampu mengubah wajah dunia, mereka adalah yang seluruh hidupnya diabdikan untuk mewujudkan pengetahuan dan harapannya tersebut melalui semangat kerja yang tak kenal mundur atau menyerah. Hidupnya menjadi bermakna karena ada harapan. Allah swt. berfirman, " Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang yang sesat " . Adapun orang yang berputus asa termasuk orang yang kufur, sebagaimana firman Allah, " Sesungguhnya, tiada berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang yang kufur "
II. Apa yang dimaksud dengan kerja ?
Hampir di setiap sudut kehidupan, kita akan menyaksikan begitu banyak orang bekerja. Walaupun demikian, tidaklah semua aktivitas manusia dapat dikategorikan sebagai bentuk pekerjaan karena didalam makna pekerjaan terkandung dua aspek yang harus dipenuhinya secara nalar yaitu :
1. Aktivitas yang dilakukannya karena ada dorongan untuk mewujudkan sesuatu sehingga tumbuh rasa tanggung jawab yang besar untuk menghasilkan karya atau produk yang berkualitas.
2. Apa yang dia lakukan tersebut dilakukan karena kesengajaan, sesuatu yang direncanakan. Karenanya, terkandung di dalamnya suatu gairah atau semangat untuk mengerahkan seluruh potensinya yang dimilikinya sehingga apa yang dikerjakannya benar-benar memberikan kepuasan dan manfaat baginya.
Dari uraian diatas, etos kerja dapat diartikan sebagai doktrin tentang kerja yang diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai baik dan benar yang berwujud nyata secara khas dalam perilaku kerja mereka. Atau bisa disebut sebagai perilaku khas suatu komunitas atau organisasi, mencakup motivasi yang menggerakkan karateristik utama, spirit dasar, pikiran dasar, kode etik, kode moral, kode perilaku, sikap-sikap, aspirasi-aspirasi, keyakinan-keyakinan, prinsip-prinsip dan standar-standar.

B. KATARERISTIK MANUSIA INDONESIA
Orang Belanda di zaman VOC menganggap manusia Indonesia itu amat khianat, tidak mau memegang teguh perjanjian, amat suaka membunuh, mau berperang saja, tidak jujur, seperti binatang, maha kejam . Anggapan ini mungkin timbul karena sejak mereka tiba di Nusantara, orang Belanda tidak berhenti-hentinya berperang, kalau tidak dengan orang Indonesia, maka mereka berperang dengan orang Portugis, Spanyol, atau Inggris. Sebagaimana Belanda yang tidak memegang janji mereka dan juga berbuat kekejaman, maka orang Indonesia pada waktu itu juga membayar Belanda dengan mata uang serupa.
Anggapan umum mereka masih saja menganggap orang Indonesia itu kurang sanggup melakukan kerja otak yang tinggi ( hooge geestarbeid ), dan orang "inlander" yang pada umumnya sedang-sedang saja ( middelmatig ) dalam beragama, gairah kerja, kejujuran, rasa kasihan, dan rasa terima kasihnya.
Tapi disamping ini, manusia Indonesia diakui juga bersifat hormat, tenang, dapat dipercaya, baik, royal, ramah pada tamu, dan lembut. Namun juga ada yang mengatakan, manusia Indonesia itu tidak suka memikirkan yang susah-susah, tak punya pendirian, tak punya kemauan, dan tidak bisa mengambil keputusan.
Orang-orang Indonesia juga dikatakan percaya takhayul, bahkan orang-orang yang sudah rasional, ahli matematika, yang telah bisa menghitung atom sampai partikelnya yang paling kecil, banyak juga yang tidak dapat menghindarkan diri dan tertarik dalam gerakan kebatinan yang bersifat takhayul dengan bermacam-macam alasan.
Orang kebatinan selanjutnya menganggap manusia ideal ialah yang bekerja keras dalam hidupnya, tanpa mencari keuntungan. Saudara-saudara kita dari Jawa sangat tidak jemu-jemunya memakai ucapan : sepi ing pamrih rame ing gawe, amemayu ayuning bawana ( bekerja keras tanpa mencari keuntungan diri sendiri, manusia memajukan dunia. Dan bekerja menjalankan sisa hidup sebagai utusan Tuhan dalam dunia, tan lami, lamun mantuk ( tak lama, lekas pulang ) kepada Tuhan.
Salah satu ciri manusia Indonesia yang paling menonjol ialah hipokritis alias munafik. Berpura-pura, lain di muka, lain di belakang, merupakan sebuah ciri utama manusia Indonesia sejak lama, sejak mereka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya ataupaun sebenarnya yang mereka kehendaki, karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya.
Ciri kedua utama manusia Indonesia masa kini adalah segan dan enggan bertanggungjawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuan-kelakuannya, pikirannya dan sebagainya. " Bukan saya " adalah kalimat yang cukup populer di mulut manusia Indonesia. Atasan menggeser tanggungjawab tentang sesuatu kesalahan kepada bawahannya, dan bawahannya menggesernya ke yang lebih bawah lagi, begitu seterusnya.
Ciri ketiga yaitu jiwa feodalnya. Hal ini dapat kita lihat dalam tatacara upacara resmi kenegaraan, dlam hubungan-hubungan organisasi kepegawaian, isteri komandan, isteri mentri otomatis jadi ketua, bukan berdasar kecakapan dan bakat leadershipnya, atau pengetahuan dan pengalamannya. Penampakannya antara lain, suka mengumpulkan simbol-simbol kesuksesan seperti mobil, rumah mewah atau gelar-gelar mewah. Mengharuskan orang-orang yang dibawah kedudukannya mengabdi dengan hormat, merendahkan diri, dan hanya melakukan hal-hal yang berkenan dengan atasannya.
Gejala-gejala diatas memang membuktikan adanya sikap feodal di kalangan masyarakat Indonesia. Tetapi ini tidak berarti bahwa setiap manusia Indonesia bersikap feodal. Sebagaimana sikap feodal bermula di kalangan raja-raja dan hamba-hambanya.
Selanjutnya, manusia Indonesia masih percaya takhayul. Dulu dan sekarang juga masih ada yang demikian., manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, pantai, pohon, patung dll. Itu punya kekuatan gaib, keramat dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua. Untuk menyenangkan mereka agar jangan memusuhi manusia, mereka di puja, diberi sesajen, dan diberi upeti atau sajen minta berkah.
Ciri kelima adalah artistic, orang Indonesia dekat dengan alam. Lebih banyak hidup dengan naluri dan perasaan. Mereka mengembangkan daya artistik yang besar dalam dirinya yang dituangkan dalam segala rupa ciptaan artistic dan kerajinan yang sangat indah, serba aneka macam, variatif dan bermacam-macam.
Kemudian, manusia Indonesia mempunyai watak yang lemah. Manusia Indonesia kurang kuat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah apalagi jika dipaksa, dan demi untuk survive bersedia mengubah keyakinannya. Dia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali jika terpaksa. Gejalanya hari ini adalah banyak orang yang ingin menjadi kaya raya tanpa mau bekerja keras atau mau mendapat gelar sarjana sampai memalsukan atau membeli gelar sarjana, supaya segera dapat pangkat, dan dari kedudukan pangkatnya bisa cepat kaya.
Inilah profil manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis. Pada tahun 1977, ketika buku ini diterbitkan, banyak pihak yang mengkritik Lubis sebagai melebih-lebihkan. Tetapi jika dikaitkan dengan keadaan manusia Indonesia sekarang, tampak sekali bahwa potret manusia Indonesia yang dibuat Lubis sangat akurat.

C. ETOS KERJA MASYARAKAT INDONESIA
Diatas telah disebutkan bahwa masyarakat Indonesia bermental lemah, tidak bertanggung jawab, munafik atau hipokrit, berjiwa feodal dan lain-lain. Ada juga yang menyebutkan bahwa bangsa bahwa Indonesia memiliki budaya lemah dan instant.
Karena itu jelas sekali bahwa pengembangan etos kerja baru yang positif dan berstandar tinggi merupakan sebuah keniscayaan bagi bangsa Indonesia agar bisa bangkit dari lembah keterpurukan. Lebih-lebih ketika kita membicarakan tentang pembangunan masyarakat Indonesia Baru di era digital global, maka pengembangan etos kerja profesional ini seharusnya menjadi sentral dari upaya tersebut.
Tanpa bermaksud terlarut dalam kejayaan masa lalu, sejarah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki prestasi yang patut dihargai dalam perjalanannya. Tegaknya candi Borobudur dan candi lainnya hanya mungkin terjadi dengan dukungan etos kerja yang bercirikan disiplin, kooperatif, loyal, terampil rasional, kerja keras, dan lain-lain.
Berkembang luasnya pengaruh kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit, Samudra Pasai, Mataram, Demak, dengan berbagai perangkat dan infrastruktur teknologis maupun sosial dalan pengelolaan kenegaraannya juga mempersyaratkan adanya suatu etos kerja tertentu yang patut dihargai. Kita juga mengenal slogan-slogan yang setidaknya dulu pernah menjadi cerminan suatu etos kehidupan, seperti : Bhinneka Tunggal Ika, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.
Ini mencerminkan etos kerja dalam konteks kehidupan sosial yang penting dalam membangun persatuan, leadership, dan bahkan untuk berinovasi. Sejarah bangsa Indonesia dapat menjadi sumber penting bagi kita untuk menggali, memahami, dan membangun etos kerja bangsa kita. Hanya saja tak jarang dimotivasi oleh dorongan-dorongan apologetik atau menjadi pelarian dari tantangan-tantangan yang kita hadapi hari ini. Jika potensi sejarah ini tidak dimanfaatkan secara optimal, ini bisa berimplikasi keterasingan bangsa kita akan dirinya sendiri. Lebih jauh, akan membuat kita asing terhadap etos karja bangsa kita sendiri.
Sebagaimana disimpulkan oleh para peneliti sosiologi dan manajemen, etos kerja merupakan bagian penting dari keberhasilan manusia, baik dalam komunitas kerja yang terbatas, maupun dalam lingkungan sosial yang lebih luas. Keberhasilan ini bukan hanya dikarenakan adanya pengetahuan dan kemampuan menggunakan nalar, tetapi juga kemampuan mengarahkan pengetahuan dan aktivitas penalaran menuju pada kebaikan, baik kebaikan individu maupun kelompok.
Di dunia, ada dua etos kerja yang paling terkenal yang dianggap sebagai penjelasan logis atas rahasia keberhasilan mereka. Pertama, etos kerja Protestan milik bangsa-bangsa Eropa Utara umumnya dan bangsa Jerman khususnya. Kedua, etos kerja Bushido milik bangsa Jepang. Tidak berarti bangsa-bangsa lain tidak mempunyai etos kerja masing-masing, namun kedua etos kerja diatas yang paling sering dibicarakan dan sudah dirumuskan secara baku.
Dewasa ini, selain kedua etos kerja diatas, etos yang berbasis pada Konfusianisme juga semakin popular sebagai penjelasan yaitu berkibarnya wirausahawan Asia khususnya etnis Cina, yang bahkan menandingi rivalnya di Barat dan Jepang.
Lalu bagaimana dengan negeri-negeri Asia lainnya yang didominasi oleh penduduk Islam seperti Indonesia, Malasyia, Pakistan, dan Bangladesh ? Kecuali Malaysia yang agak lumayan, negeri-negeri lainnya boleh dibilang payah secara ekonomi. Tampaknya kaitan etos kerja dan kemajuan ini agak bermuka dua. Maksudnya, doktrin formal yang diajarkan Islam meskipun sangat bersesuaian dengan kemajuan dan modernitas itu sendiri, tetapi di tingkat implementasi, etos kerja umat di lapangan belum menampakkan hasil yang menggembirakan.
Agama Islam sendiri adalah agama kerja. Umat Islam tidak boleh menjadi beban orang lain. Islam mengajarkan bahwa beriman saja tidak cukup, tetapi harus dibarengi dengan amal saleh atau kerja yang baik. Tujuan bekerja adalah demi kepentingan diri sendiri, keluarga, masyarakat, negara maupun untuk kepentingan lingkungan alamnya.


BAB III. PENUTUP
A. KESIMPULAN
Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang berpenduduk padat ternyata tidak bisa menyaingi negara-negara tetangga di kawasan Asia dalam hal perekonomian. Ini disebabkan karena etos kerja masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah bila dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura.
Dulu Malaysia yang berguru kepada kita, tetapi sekarang terbalik, Indonesia yang berguru ke Malaysia. Ini menunjukkan bahwa Indonesia bukan maju ke depan tetapi mundur beberapa langkah ke belakang. Jika hal ini kita biarkan berlarut-larut, maka Indonesia akan semakin terpuruk dalam segala hal. Indonesia tidak akan bisa bersaing dengan negara-negara lain sekalipun hanya di kawasan Asia Tenggara.
B. SARAN
Sebagai warga negara Indonesia, tentunya kita tidak ingin Indonesia menjadi negara yang terpuruk. Indonesia mempunyai penduduk yang banyak, jika hal ini dimanfaatkan dengan baik tentunya akan membuat Indonesia lebih maju beberapa langkah. Kita dapat mulai dengan memperbaiki etos kerja kita. Jika etos kerja hanya didasarkan pada materi saja maka kita hanya akan mendapatkan materi. Jika hanya ingin mendapatkan kehormatan, maka yang didapat hanya materi dan kehormatan. Sedangkan jika pekerjaan dinilai sebagai ibadah, maka seseorang akan mendapatkan materi, kehormatan dan nilai ibadahnya itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar